Langsung ke konten utama

Menelusuri Peradaban Awal di kepulauan Indonesia




A. Sebelum Mengenal Tulisan
Manusia purba tidak mengenal tulisan dalam kebudayaannya. Periode kehidupan ini dikenal dengan zaman pra-aksara.Masa pra-aksara berlangsung sangat lama jauh melebihi periode kehidupan yang sudah mengenal tulisan.
Banyak orang  yang beranggapan bahwa zaman pra-aksara dengan zaman pra-sejarah itu sama. Tapi sesungguhnya, pernyataan tersebut kurang tepat. dikarenakan pra-aksaraberasal dari kata pra yang berarti sebelum dan sejarah yang berarti sejarah yang jika digabungkan memiliki arti sebelum ada sejarah. Sedangkan pra-aksara berasal dari kata pra yang artinya sebelum dan aksara yang berarti tulisan. Jadi pra-aksara adalah sebelum adanya tulisan.
Ada istilah yang mirip dengan kata pra-aksara yakni, nirleka. nirleka (nir: tidak ada, leka: tulisan) adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada masa di saat catatan sejarah yang tertulis belum tersedia.
Batas antara zaman pra-aksara dengan zaman sejarah adalah mulai adanya tulisan. Hal ini menimbulkan suatu pengertian bahwa pra-aksara adalah zaman sebelum ditemukannya tulisan, sedangkan sejarah adalah zaman setelah adanya tulisan. Berakhirnya zaman pra-aksara atau dimulainya zaman sejarah untuk setiap bangsa di dunia tidak sama tergantung dari peradaban bangsa tersebut. Salah satu contoh yaitu bangsa Mesir sekitar tahun 4000 SM masyarakatnya sudah mengenal tulisan, sehingga pada saat itu, bangsa Mesir sudah memasuki zaman sejarah. Zaman pra-aksara di Indonesia diperkirakan berakhir pada masa berdirinya Kerajaan Kutai, sekitar abad ke-5. Dibuktikan dengan adanya prasasti yang berbentuk yupa yang ditemukan di tepi Sungai MahakamKalimantan Timur baru memasuki era sejarah.
Karena tidak terdapat peninggalan catatan tertulis dari zaman prasejarah, keterangan mengenai zaman ini diperoleh melalui bidang-bidang seperti paleontologiastronomi,biologigeologiantropologiarkeologi. Dalam artian bahwa bukti-bukti prasejarah didapat dari artefak-artefak yang ditemukan di daerah penggalian situs prasejarah.
Karena jauhnya jarak waktu masa pra-aksara dengan sekarang, maka tak jarang orang yang mempersoalkan apa pentingnya kita belajar tentang zama pra-aksara. Karena, juga sudah lewat. Padahal pandangan seperti ini sungguh menyesatkan. Karena banyak hubungannya dengan kekinian kita. Pada data etnografi, menggambarkan kehidupan masyarakat pra-aksara yang masih berlangsung sampai sekarang. Contohnya pada pola hunian, pola pertanian subsitensi, teknologi tradisional, dan konsepsi kepercayaan tentang hubungan harmoni antara manusia dan alam. Bahkan, kebiasaan memelihara kucing ataupun anjing di daerah perkotaan.







               










B. Terbentuknya kepulauan Indonesia
           
            Ada banyak teori ilmiah tentang proses terbentuknya bumi mulai dari mitos sampai kepada penjelasan agama dan ilmu pengetahuan. Salah satu teori ilmiahnya antara lain adalah teori “Dentuman Besar” (Big Bang), seperti dikemukakan oleh ilmuwan seperti Stephen Hawking. Teori ini menjelaskan bahwa alam semesta mulanya berbentuk gumpalan gas yang mengisi seluruh ruang jagad raya. JIka digunakan teleskop besar Mount Wilson untuk mengamatinya akan terlihat ruang jagad raya itu luasnya mencapai radius 500.000.000 tahun cahaya. Gumpalan gas itu suatu saat meledak dengan satu dentuman yang amat dahsyat. Setelah itu, materi yang terdapat di alam semesta mulai berdesakan satu sama lain dalam kondisi suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga hanya tersisi energy berupa proton, neutron, dan electron, yang bertebaran ke seluruh arah. Ledakan dahsyat itu menimbulkan gelembung – gelembung alam semesta yang menyebar dan menggembung ke seluruh penjuru sehinggga membentuk galaksi, bintan – bintang, matahari, planet,bumi, bulan, dan meteorit.

            Selanjutnya ]proses evolusi alam semesta itu memakan waktu kosmologis yang sangat lama sampai berjuta tahun. Terjadinya evolusi bumi sampai adanya kehidupan memakan waktu yang sangat panjang. Ilmu paleontology mebaginya dalam enam tahap waktu geologis. Masing – masing ditandai oleh peristiwa alam yang menonjol, seperti muncunya gunung – gunung, benua, dan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Sedangkan proses evolusi bumi di bagi menjadi.

1.    Azoikum (Yunani a = tidak; zoon =hewan) yaitu zaman sebelum adanya kehidupan. Pada saat ini bumi baru terbentuk dengan suhu yang relative tinggi. Waktunya lebih dari satu miliar tahun lalu.

2.    Palaeozoikum, yaitu zaman purba tertua. Pada zaman ini sudah meninggalkan fosil floradan fauna. Berlangsung kira – kira 350.000.000 tahun.

3.    Mesozoikum, yaitu zaman purba tengah. Pada masa ini hewan mamalia (menyusui), hewan amfibi, burung, dan tumbuhan berbunga mulai ada. Lamanya kira – kira 140.000.000 tahun.

4.    Neozoikum, yaitu zaman purba baru, yang dimulai sejak 60.000.000 tahun yang lalu. Zaman dapat dibagi lagi menjadi dua tahap (Tersier dan Quarter). Zaman es mulai menyusut dan makhluk – makhluk tingkat tinggi dan manusia mulai hidup.
Gugusan kepulauan ataupun wilayah maritime seperti yang temukan sekarng ini terletak di antara dua benua dan dua samudra, yaitu Benua Asia dan Benua Australia serta Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Menurut para ahli bumi, posisi pulau – pulau di Kepulauan Indonesia terletak di atas tungku api yang bersumber dari magma dalam perut bumi. Inti perut bumi tersebut berupa lava cair bersuhu sangat tinggi. Makin kedalam tekanan dan suhunya semakin tinggi. Pada suhu yang tinggi itu material – material di bagian dalam bumi selalu berbentuk cairan panas.

Suhu tinggi ini terus-menerus bergejolak mempertahankan cairan sejak jutaan tahun lalu. Ketika ada celah lubang keluar, cairan tersebut keluar dalam bentuk lava cair. Ketika lava mencapai permukaan bumi, suhu menjadi lebih dingin dari ribuan derajat menjadi hanya bersuhu normal 30 derajat. Pada suhu ini cairan lava akan membeku membentuk batuan beku atau kerak. Keberadaan kerak benua (daratan) dan kerak samudera selalu bergerak secara dinamis akibat tekanan magma dari perut bumi. Pergerakan unsur-unsur geodinamika ini dikenal sebagai kegiatan tektonis.

Sebagian wilayah kepulauan Indonesia merupakan titik temu diantara tiga lempeng, yaitu lempeng Indo-Australia selatan, lempeng Eurasia di utara dan lempeng Pasifik di timur. Pergerakan lempeng-lempeng tersebut dapat berupa subduksi (pergerakan lempeng ke atas), obduksi (pergerakan lempeng ke bawah) dan kolisi (tumbukan lempeng). Pergerakan lain dapat berupa pemisahan atau divergensi (tabrakan) lempeng-lempeng. Pergerakan mendatar berupa pergeseran lempeng-lempeng tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang.

Pada kala Pliosen sekitar 5 juta tahun yang lalu, terjadi pergerakan tektonis yang sangat kuat, yang mengakibatkan terjadinya proses pengangkatan permukaan bumi dan kegiatan vulkanis. Ini pada gilirannya menimbulkan tumbuhnya (terbentuknya) rangkaian perbukitan struktual seperti perbukitan besar /gunung dan perbukitan lipatan serta rangkaian gunung api aktif sepanjang gugusan perbukitan itu.Kegiatan tektonis dan vulkanis terus aktif hingga awal masa Pleistosen yang dikenal sebagai kegiatan tektonis Plio-Pleistosen. Kegiatan tektonis ini berlangsung di seluruh Kepulauan Indonesia.
Kepulauan Indonesia yang seperti sekarang ini telah terbentuk sejak kala Pliosen hingga awal Pleitosen (1,8 juta yang lalu). Jadi pulau-pulau di kawasan kepulauan Indonesia ini masih terus bergerak secara dinamis, sehingga masih sering terjadi gempa, baik vulkanis maupun tektonis.Letak kepulauan Indonesia yang berada pada deretan gunung api membuatnya menjadi daerah dengan tingkat keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi. Maka itulah yang mendorong lahirnya peneliti terhadap flora dan fauna, yang paling dikenal yaitu penelitian Alfred Russel Wallace yang membagi Indonesia dalam dua wilayah berbeda bedasarkan ciri khusus baik fauna maupun flora. Fauna-fauna yang berada di barat garis pembatas itu disebut dengan Indo-Malayan region, sedangkan yang di sebelah timur disebut dengan Australia Malayan region. Garis itulah yang kemudian kita kenal dengan Garis Wallacea.Keberadaan Manusia di Muka Bumi dimulai pada zaman Quarter sekitar 600 ribu tahun yang lalu atau disebut juga zaman es. Jika ukuran Panas bumi turun drastis maka es akan mencapai luas yang sebesar-besarnya disebut zaman Glacial. Sebaliknya di sebut zaman Interglacial. Kedua Zaman tersebut berlangsung silih berganti selama zaman Diluvium (Pleistosen). Hal ini menimbulkan berbagai perubahan iklim di seluruh iklim di seluruh dunia, yang kemudian mempengaruhi keadaan bumi serta kehidupan yang ada diatasnya termasuk manusia, sedangkan zaman Alluvium (holosen) berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu hingga sekarang ini. Beruntung Kita bangsa Indonesia memiliki temuan bermacam-macam manusia purba serta hasil-hasil kebudayaannya, sehingga sejak akhir abad ke-19 para ilmuan tertarik untuk melakukan kajian di negeri kita.

















C. Mengenal Manusia Purba

1. Sangiran
Lahan yang berada di perbatasan Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar dikenal dengan nama Situs Sangiran. Situs Kepurbakalaan Sangiran adalah situs arkeologi di Jawa, Indonesia. Tempat ini merupakan lokasi penemuan beberapa fosil manusia purba, sehingga sangat penting dalam sejarah perkembangan manusia dunia yang memberi petunjuk tentang keberadaan manusia sejak 150.000 tahun yang lalu.
Area ini memiliki luas kurang lebih 48 km², sebagian besar berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Kalijambe,Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, 17 km sebelah utara Kota Surakarta, di lembah Bengawan Solo dan di kaki Gunung Lawu.
Sangiran merupakan kubah raksasa akibat erosi di puncaknya yang berupa endapan lempung hitam dan pasir fluvio-vulkanik, tanahnya tidak subur dan diwarnai dengan perbukitan bergelombang, kondisi ini menyebabkan tersingkapnya berbagai lapisan batuan yang mengandung fosil-fosil purba dan artefak.
Sangiran di temukan oleh P.E.C. Schermuling tahun 1864, dengan laporan penemuan fosil vertebrata dari Kalioso (bagian wilayah sangiran). Pada tahun 1934, Gustav Heinrich Ralph von Koeningswald menemukan artefak litik di wilayah Ngebug. Semenjak itu Sangiran menjadi tempat yang terkenal akan penemuan fosil Homo erectus secara sporadis dan berkesinambungan. Homo erectus adalah takson paling penting dalam sejarah manusia, sebelum masuk pada tahapan manusia modern.
Situs ini juga memberi gambaran nyata tentang evolusi budaya, binatang, dan lingkungan. Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya dan ada tahun 1996 situs ini terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/cd/Homo_erectus.jpghttp://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/a1/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Dr._G.H.R._von_Koenigswald_tijdens_onderzoek_naar_schedels_op_Java_TMnr_10018632.jpg








2. Trinil, Ngawi, Jawa Timur

Trinil adalah situs paleoantrokpologi di Indonesia yang sedikit lebih kecil dari situs Sangiran. Tempat ini terletak di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, kira-kira 13 km sebelum pusat kota Ngawi dari arah kota Solo. Trinil merupakan kawasan di lembah Bengawan Solo yang menjadi hunian kehidupan purba, tepatnya zamanPleistosen Tengah, sekitar satu juta tahun lalu.
Pada tahun 1891 Eugène Dubois, yang adalah seorang ahli anatomi menemukan bekas manusia purba pertama di luar Eropa (saat itu) yaitu spesimen manusia Jawa. Pada 1893 Dubois menemukan fosil manusia purba Pithecanthropus erectus serta berbagai fosil hewan dan tumbuhan purba.Penggalian dubois dilakukan pada endapan alluvian Bengawan Solo. Dari lapisan ini ditemukan atap tengkorak pithecanthropus erectus,dan beberapa buah tulang paha( utuh dan fragmen) yang menunjukkan pemiliknya telah berjalan tegak.
Saat ini di Trinil berdiri sebuah museum yang menempati area seluas tiga hektare, dengan koleksi di antaranya fosiltengkorak Pithecantrophus erectus, fosil tulang rahang bawah macan purba (Felis tigris), fosil gading dan gigi geraham atas gajah purba (Stegodon trigonocephalus), dan fosil tanduk banteng purba (Bibos palaeosondaicus). Situs ini dibangun atas prakarsa dari Prof. Teuku Jacob, ahli antropologi ragawi dari Universitas Gadjah Mada.

http://2.bp.blogspot.com/-L6SrMAoD7X4/UMhiHN05miI/AAAAAAAAAUM/S7FnpBeHKts/s1600/eugene-dubois-dokter-muda-belanda-1858-1940.jpg














Beberapa jenis manusia purba pada zaman pra-aksara
1.    kerangka MeganthropusJenis Meganthropus

Jenis manusia purba ini terutama berdasarkan penelitian von koeningswald tahun 1936 dan 1941 yang menemukan fosil rahang manusia yangberukuran besar. Dari hasil ini kemudian para ahli menamakan jenis manusia ini dengan Meganthropus paleojavanicus ,yang artinya manusia raksasa dari jawa Fosil tersebut diperkirakan hidupnya antara 20 juta – 15 juta tahun yang lalu, dan berasal dari lapisan Jetis.

Ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus:

1. Memiliki tulang rahang yang kuat
2. Tidak punya dagu
3. Memiliki otot kunyah yang kuat
4. Tulang pipi tebal
5. Tulang kening menonjol
6. Memiliki tonjolan di kepala belakang
7. Memakan jenis tumbuhan

2.    Jenis Pithecantropus

Fosil manusia purba jenis Pithecanthrophus adalah jenis fosil manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Pithecanthropus sendiri berarti manusia kera yang berjalan tegak. Fosil Pithecanthropus berasal dari Pleistosen lapisan bawah dan tengah. Mereka hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan Mereka sudah memakan segala, tetapi makanannya belum dimasak. Terdapat tiga jenis manusia Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia, yaitu Pithecanthrophus erectus, Pithecanthropus mojokertensis, dan Pithecanthropus soloensis. Berdasarkan pengukuran umur lapisan tanah, fosil Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia mempunyai umur yang bervariasi, yaitu antara 30.000 sampai 1 juta tahun yang lalu.










  1. http://2.bp.blogspot.com/-A7-fJ2cBSyA/UMhjj5Ub4EI/AAAAAAAAAUU/Vx7Yk49cYaM/s320/salah-satu-fosil-pithecanthropus-erectus.jpgPithecanthropus erectus, ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891 di sekitar lembah sungai Bengawan Solo, Trinil, Jawa Tengah. Mereka hidup sekitar satu juta sampai satu setengah juta tahun yang lalu. Pithecanthropus Erectus berjalan tegak dengan badan yang tegap dan alat pengunyah yang kuat. Volume otak Pithecanthropus mencapai 900 cc. Volume otak manusia modern lebih dari 1000 cc, sedangkan volume otak kera hanya 600 cc.

  1. Pithecanthropus mojokertensis, disebut juga dengan Pithecanthropus robustus. Fosil manusia purba ini ditemukan oleh Von Koeningswald pada tahun 1936 di Mojokerto, Jawa Timur. Temuan tersebut berupa fosil anak-anak berusia sekitar 5 tahun. Makhluk ini diperkirakan hidup sekitar 2,5 sampai 2,25 juta tahun yang lalu. Pithecanthropus Mojokertensis berbadan tegap, mukanya menonjol ke depan dengan kening yang tebal dan tulang pipi yang kuat.

  1. Pithecanthropus soloensis, ditemukan di dua tempat terpisah oleh Von Koeningswald dan Oppernoorth di Ngandong dan Sangiran antara tahun 1931-1933. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak dan juga tulang kering.
Ciri-ciri Pithecanthropus :

1.    Memiliki tinggi tubuh antara 165-180 cm.
2.    Badan tegap, namun tidak setegap Meganthrophus.
3.    Volume otak berkisar antara 750 – 1350 cc.
4.    Tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis.
5.    Hidung lebar dan tidak berdagu.
6.    Mempunyai rahang yang kuat dan geraham yang besar.
7.    Makanan berupa tumbuhan dan daging hewan buruan.







3. Jenis Homo
Fosil jenis homo ini pertama diteliti oleh von reitschoten di Wajak.Penelitian dilanjutkan oleh Eugene Dubois bersama kawan-kawan dan menyimpulkan sebagai jenis homo.Homo Sapiens merupakan sebuah spesies dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Jenis manusia ini termasuk manusia yang memiliki pikiran yang cerdas dan bijaksana. Dengan daya pikirnya manusia dapat berpikir apakah yang sebaiknya dilakukan pada masa sekarang atau masa yang akan datang berdasar kan pertimbangan masa lalu yang merupakan pengalaman. Pemikiran yang sifatnya abstrak merupakan salah satu wujud budaya manusia yang kemudian diikuti wujud budaya lain, berupa tindakan atau perilaku, ataupun kemampuan mengerjakan suatu tindakan. Manusia purba jenis ini memiliki bentuk tubuh yang sama dengan manusia sekarang. Dibandingkan manusia purba sebelumnya, homo sapiens lebih banyak meninggalkan benda – benda berbudaya. Diduga, inilah yang menjadi nenek moyang bangsa – bangsa di dunia.
Ciri-ciri Homo Sapiens :
1.     Tinggi tubuh 130-210 cm
2.     Berat badan 30 – 159 kg, dan volume otak 1350 – 1450 cc.
3.     Otak lebih berkembang dari pada Meganthropus danpithecanthropus.
4.     Otot kunyah, gigi, dan rahang sudah menyusut.
5.     Tonjolang kening sudah berkurang dan sudah berdagu.
6.     Mempunyai ciri-ciri ras Mongoloid dan Austramelanosoid


Homo Sapiens dibagi 2 :
A.   Manusia Wajak (Homo wajakensis)
Fosil manusia purba dari genus homo yang berasal dari kala Pleistosen di Indonesia ditemukan di Wajak. Fosil yang ditemukan di Wajak adalah Homo Sapiens, dekat daerah Campurdarat, Tulungagung. Fosil ini ditemukan oleh Van Rietschoten pada tahun 1889 dan diselidiki pertama kali oleh Dubois. Fosil yang ditemukan terdiri atas tengkorak, rahang bawah, dan beberapa ruas leher.


Ciri-ciri Homo Wajakensis sebagai berikut :
a. Muka datar dan lebar,
b. Hidung lebar dan bagian mulutnya menonjol,
c. Dahinya agak miring dan di atas mata terdapat busur kening yang nyata,
d. Tenggorokannya sedang, agak lonjong, dan agak bersegi di tengah-tengah atap tengkoraknya dari muka ke belaka ng, dan
e. Mukanya lebih Mongoloid karena sangat datar dan pipinya menonjol ke samping.

Dari ciri-ciri tersebut dapat disimpulkan, manusia Wajak tubuhnya tinggi, isi tengkorak besar, dan sudah menjadi Homo Sapiens. Walaupun demikian, para ahli sulit menentukan ke dalam ras mana Homo Sapiens ini karena ia memiliki dua ciri yaitu ras Mongoloid dan Austromelanesoid. Mungkin Homo Sapiens ini tidak hidup bersamaan dengan ras-ras yang hidup sekarang. Mungkin pula dari ras Wajak itulah subras Melayu Indonesia berasal dan turut revolusi menjadi ras Austromelanesoid yang sekarang.

Homo Sapiens (ras Wajak) ini mungkin meliputi juga ras-ras yang hidup sekitar 25.0000 -40.000 tahun lampau di Asia Tenggara, seperti manusia Niah di Sarawak dan manusia Tabon di Pulau Palawan (Filipina).

Penemuan fosil manusia Wajak menunjukkan bahwa sekitar 40.000 tahun silam Indonesia sudah didiami oleh Homo Sapiens. Oleh karena rasnya sulit dicocokkan dengan ras-ras pokok yang ada sekarang maka manusia Wajak itu dianggap sebagai ras tersendiri. Manusia Wajak tidak berevolusi dari Pithecanthropus, tetapi mungkin dari tahapan Homo Neanderthropus, yang fosilnya belum ditemukan di Indonesia. Mungkin pula dari Homo Neanderthalensis di tempat lain atau hasil evolusi dari Pithecanthropus Soloensis. Para ahli belum dapat menentukannya. Namun yang pasti, ras Wajak tidak hanya mendiami Indonesia bagian barat, tetapi juga sebagian Indonesia Timur yang fosil-fosilnya belum ditemukan.

B.   Manusia Liang Bua
Manusia Liang Bua atau Homo floresiensis ("Manusia Flores", dijuluki Hobbit) adalah nama yang diberikan oleh kelompok peneliti untuk spesies dari genus Homo, yang memiliki tubuh dan volume otak kecil, berdasarkan serial subfosil (sisa-sisa tubuh yang belum sepenuhnya membatu) dari sembilan individu yang ditemukan di Liang Bua, Pulau Flores, pada tahun 2001. Kesembilan sisa-sisa tulang itu (diberi kode LB1 sampai LB9) menunjukkan postur paling tinggi sepinggang manusia moderen (sekitar 100 cm).
Para pakar antropologi dari tim gabungan Australia dan Indonesia berargumen menggunakan berbagai ciri-ciri, baik ukuran tengkorak, ukurantulang, kondisi kerangka yang tidak memfosil, serta temuan-temuan sisa tulang hewan dan alat-alat di sekitarnya. Usia seri kerangka ini diperkirakan berasal dari 94.000 hingga 13.000 tahun yang lalu. Manusia Liang Bua mempunyai ciri tengkorak yang panjang dan rendah, berukuran kecil, dengan volume otak 380 cc. Volume otak tersebut berada jauh dibawah Homo erectus (1.000 cc), manusia modern Homo sapiens (1.400 cc), bahkan dibawah volume simpanse (450 cc).




3. Perdebatan Antara Pithecantropus ke Homo Erectus

Penemuan fosil-fosil pithecantropus oleh Dubois dihububunngkan dengam teori evolusi manusia yang dituliskan oleh charles darwin. Harry widiyanto menuliskan perdebatan itu seperti berikut. Penemuan fosil pithecantropus oleh dubois yang dipublikasikan pada tahun 1894 dalam berbagai majalah ilmiah melahirkan perdebatan. Dalam publikasinya itu dubois menyatakan bahwa, menurut teori evolusi darwin,pithecantropus erectus adalah peralihan kera ke manusia. kera merupan moyang manusia. pernyataan dubois itu kemudian menjadi perdebatan,apakah benar atap tengkorak dengan volume kecil,gigi-gigi berukuran besar, dan tulang paha yang berciri modern itu berasal dari satu individu? sementara orang menduga bahwa tengkorak seekor gibon, gigi-gigi merupakan milik Pongo sp., berdasarkanciri-cirinya yang berukuran besar,akar gigi yang kuat dan terbuka,dentikulasi yang tidak individual,dan permukaan occulsal yang sangat berkerut-kerut.
 Perdebatan itu kemudian berlanjut hingga ke eropa,ketika dubois mempresentasikan penemuan tersebut dalam seminar internasional zoologi pada tahun 1895 di Leoden,Belanda,dan dalam pameran publik British Zoology Society di London. Setelah seminar dam pameran itu banyak ahli yang tidak ingin melihat temuannya itu lagi. Dubois pun kemudian menyimpan semua hasil temuannya itu,hingga pada tahun 1922 temuan itu mulai diteliti oleh Franz Weidenreich. Temuan-temuan Dubois itu menandai munculnya sebuah kajian ilmu paleoantropologi telah lahir di Indonesia..
 Seorang ahli biologi menyatakan bahwa standar zoologis tidak dimungkinkan memisahkan Pithecantropus erectus dan Sinanthropus pekinensis dengan genus yang berbeda dengan manusia modern. Pithecantropus adalah satu tahapan dalam proses evolusi ke arah  Homo sapiens dengan kapasitas tengkorak yang kecil. Karena itulah perbedaan itu hanya perbedaan spesies bukan perbedaan genus. Dalam pandangan ini maka Pithecantropus erectus harus diletakkan dalam genus Homo, dan untuk mempertahankan spesies aslinya, dinamakan Homo erectus. Maka berakhirlah debat pandangan mengenai Pithecantropus dari Dubois dalam sejarah perkembangan manusia yang berjalan puluhan tahun. Saat ini Pithecantropus diterima sebagai hominid dari Jawa,bagian dari Homo erectus.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sapaan Dasar dalam Bahasa Spanyol

Dibawah ini merupakan sapaan-sapaan yang digunakan dalam bahasa spanyol sehari-hari secara umum: 1. Hola=halo (biasanya digunakan untuk menyapa orang seperti halo) 2. Menyapa pada waktu tertentu     a. Hola, buenos dias     = Halo selamat pagi (digunakan untuk menyapa di pagi hari)     b. Hola, buenas tardes  = Halo Selamat siang/afternoon (Menyapa orang di siang hari)     c. Hola, buenas noches = Halo selamat malam (menyapa orang di malam hari) 3. Ingin berpisah dengan orang: Adiós= Selamat tinggal/goodbye 4. Balasan dari ucapan adios     a. Hasta Luego = sampai jumpa nanti (digunakan apabila nanti akan berjumpa kembali)     b. Hasta mañana = sampai jumpa besok (digunakan apabila besok akan bertemu kembali) 5. Menanyakan nama seseorang: Comó te llamas? = siapa nama kamu? 6. Memperkenalkan diri : Me llamo .......= nama saya (isi sendiri dengan nama mu) 7. Menanyakan apakah seseorang bisa berbicara bahasa s...

Tips Mendapatkan Hasil Maksimal dalam Pelajaran

     Dalam belajar tentunya kita ingin mendapatkan hasil yang terbaik, namun terkadang kita terkendala oleh beberapa hal yaitu malas, godaan teman, godaan setan, game, dan lain-lain. Dibawah ini adalah tips tips untuk mendapat hasil yang maksimal: 1.Tanamkan Motivasi dari diri sendiri contoh motivasi     Kita belajar pasti karena ingin sukses di masa depan, tetapi terkadang kita malas untuk melakukan pembelajaran. Salah satu untuk mengatasi ini yaitu buat motivasi agar kita senantiasa ingat tujuan kita dalam belajar ini.  2. Sisihkan waktu untuk belajar dimanapun dan kapanpun Orang sukses pasti selalu menyisihkan waktunya untuk belajar atau mempelajari apa yang belum ia ketahui. Dengan menyisihkan waktu kita lebih banyak mendapat pengetahuan dan itu akan berguna di masa depan dibandingkan main game yang tidak ada tujuan dan hanya untuk kesenangan sesaat. Saya tidak menyalahkan game, game juga dibutuhkan agar kita tidak jenuh tertapi jangan ...

Sosialisasi

Sosialisasi Menurut Para ahli 1.     Soejono Soekanto               : Proses menggkomunikasikan kebudayaan 2.     Koentjanigrat                        : Individu sejak kanak kanak hingga dewasa berkembang,                                                                 berhubungan, mengenal , dan menyesuaikan diri dalam                                                                      masyarakat 3.     Peter Berger          ...