Sosialisasi
Menurut
Para ahli
1. Soejono
Soekanto : Proses menggkomunikasikan
kebudayaan
2. Koentjanigrat : Individu sejak kanak
kanak hingga dewasa berkembang, berhubungan, mengenal , dan menyesuaikan diri
dalam masyarakat
3. Peter
Berger : Anak belajar menjadi
seorang anggota yang berpartisipasi
4. Edward
Shills : Proses
sepanjang umur yang perlu dilalui individu untuk menjadi seorang dewasa
5. Horton
and Hont : Seseorang menghayati
norma-norma kelompok tempat ia hidup
6. Ahmadi
: -Proses belajar
akomodasi Individu ( Memohon,mengubah impuls salam diri diikuti upaya pewarisan
cara hidup)
-Mempelajari kebiasaan sikap, ide, nilai, dan tingkah laku
- Semua sikap dan harapan yang dipelajari
-Mempelajari kebiasaan sikap, ide, nilai, dan tingkah laku
- Semua sikap dan harapan yang dipelajari
Tujuan
1. Untuk
mengetahui lingkungan social atau fisik atau budaya
2. Untuk
mengetahui nilai nilai dan norma norma
Jenis:
·
Primer :
Sosialisasi pertama masa kecil sampai menjadi
anggota masyarakat, orang terdekat menjadi sangat penting, apa yang diserap
menjadi cirri mendasar kepribadian
Sosialisasi primer,
merupakan bentuk sosialisasi yang pertama kali diterima oleh individu pada
lingkungan di sekitar keluarga. Pada sosialisasi ini, individu belum mengetahui
sosialisasi yang amat luas layaknya orang dewasa. Pada bentuk ini, individu hanya
diperkenalkan sosialisasinya dengan anggota keluarganya saja, belum secara
luas.
Sebagai contoh, sejak Ahmad
kecil Ibunya selalu mengajarkan bagaimana bersikap sopan santun kepada orang
yang lebih tua. Contoh lain, Ibu Nadia selalu mengajarkan Nadia yang masih
kecil untuk selalu menggunakan tangan kanan saat makan dan menerima pemberian
dari orang lain.
·
Sekunder :
Kelanjutan, primer, diawali desosialisai
(Oencabutan identitas diri yang lama) kemudian resosialisais ( seseorang diberi
identitas yang baru
Pada sosialisasi sekunder,
merupakan bentuk sosialisasi yang bertujuan memperkenalkan individu kepada
lingkungan di luar keluarga. Seperti lingkungan kerja, media massa, sekolah,
lingkungan bermain, dan sebagainya. Pada bentuk ini, individu dilatih untuk saling
ber sosialisasi antar sesama umur. Bukan dengan orang tuanya. Sebagai contoh,
Adi berteman akrab dengan Aldi maka itu ia saling ber sosialisasi bersama di
saat mereka berdua sedang bermain. Contoh lain, seorang guru mengajarkan
pelajaran bahasa indonesia kepada murid-muridnya yang duduk di bangku kelas 2
SD.
Pola
·
Represif
Sosialisasi represif, merupakan suatu bentuk sosialisasi yang mengarah kepada hukuman (punishment) dan pemberian suatu hadiah (reward).
Pada sosialisasi ini, seseorang yang dapat menuruti kemauan dari orang lain akan mendapatkan hadiah (reward) yang akan didapatnya. Sebaliknya, jika seseorang tersebut tidak dapat menuruti kemauan dari orang lain maka ia akan mendapatkan suatu hukuman (punishment). Sebagai contoh, Ibu ingin seorang anak dapat hidup disiplin dan taat kepada aturan-aturan yang telah ditetapkannya. Jika seorang anak tersebut melanggar aturannya, Ibu akan memarahi atau bahkan memukul anaknya setiap kali tidak taat dan disiplin.
Sosialisasi represif, merupakan suatu bentuk sosialisasi yang mengarah kepada hukuman (punishment) dan pemberian suatu hadiah (reward).
Pada sosialisasi ini, seseorang yang dapat menuruti kemauan dari orang lain akan mendapatkan hadiah (reward) yang akan didapatnya. Sebaliknya, jika seseorang tersebut tidak dapat menuruti kemauan dari orang lain maka ia akan mendapatkan suatu hukuman (punishment). Sebagai contoh, Ibu ingin seorang anak dapat hidup disiplin dan taat kepada aturan-aturan yang telah ditetapkannya. Jika seorang anak tersebut melanggar aturannya, Ibu akan memarahi atau bahkan memukul anaknya setiap kali tidak taat dan disiplin.
Sosialisasi
represif umumnya dilakukan oleh orang tua yang otoriter. Sikap orang tua yang
otoriter dapat menghambat pembentukan kepribadian seorang anak. Mengapa? Anak
tidak dapat membentuk sikap mandiri dalam bertindak sesuai dengan perannya. Seorang
anak yang sejak kecil selalu dikendalikan secara berlebihan oleh orang tuanya,
setelah dewasa ia tidak akan berani mengembangkan diri, tidak dapat mengambil
suatu keputusan, dan akan selalu bergantung pada orang lain. Kata-kata ‘harus’,
‘jangan’, dan ‘tidak boleh ini dan itu’ akan selalu terngiang-ngiang dalam
pikiran
ciri-ciri
sosialisasi represif di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Menghukum perilaku
yang keliru.
2) Adanya hukuman dan
imbalan materiil.
3) Kepatuhan anak kepada
orang tua.
4) Perintah sebagai
komunikasi.
5) Komunikasi nonverbal
atau komunikasi satu arah yang berasal dari orang tua.
6) Sosialisasi berpusat
pada orang tua.
7) Anak memerhatikan
harapan orang tua.
8) Dalam keluarga
biasanya didominasi orang tua.
·
Partisipatif
Pada sosialisasi
partisipatoris, merupakan bentuk sosialisasi yang mengutamakan pada partisipasi
seorang anak. Pada bentuk ini, sosialisasi yang terjadi adalah memberikan suatu
imbalan yang baik kepada seorang anaknya. Sebagai contoh, setiap Ahmad
mendapatkan rangking di kelasnya, Ayahnya selalu memberikan uang jajan lebih
kepada Ahmad. Hal tersebut merupakan partisipasi seorang anak.
Berdasarkan uraian di
atas dapat diketahui bahwa sosialisasi partisipatif memiliki ciri-ciri antara
lain sebagai berikut.
1) Memberikan imbalan
bagi perilaku baik.
2) Hukuman dan imbalan
bersifat simbolis.
3) Otonomi anak.
4) Interaksi sebagai
komunikasi.
5) Komunikasi verbal
atau komunikasi dua arah, baik dari anak maupun dari orang tua.
6) Sosialisasi berpusat
pada anak.
7) Orang tua
memerhatikan keinginan anak.
8) Dalam keluarga
biasanya mempunyai tujuan yang sama.
TAHAP
·
Persiapan (Prepatory)
Pada tahap ini, seorang manusia yang lahir di dunia yang menjadi anak dari orang tua mereka dilatih untuk mengenal keadaan yang terdapat di dunia. Pada tahap ini pula, seorang anak sudah mulai mencoba meniru peran orang dewasa atau peran yang dijalankan oleh orang tuanya meskipun belum sempurna.
Pada tahap ini, seorang manusia yang lahir di dunia yang menjadi anak dari orang tua mereka dilatih untuk mengenal keadaan yang terdapat di dunia. Pada tahap ini pula, seorang anak sudah mulai mencoba meniru peran orang dewasa atau peran yang dijalankan oleh orang tuanya meskipun belum sempurna.
·
Meniru (Play stage)
Dalam tahap meniru ini, seorang anak mulai melihat peran yang dijalankan oleh orang tuanya dan kemudian, ia meniru peran tersebut tetapi ia belum mengetahui maksud dan tujuannya. Mengapa ia meniru peran tersebut. Sebagai contoh seorang anak laki-laki meniru peran yang dijalankan oleh Bapaknya yaitu menyetir mobil.
Dalam tahap meniru ini, seorang anak mulai melihat peran yang dijalankan oleh orang tuanya dan kemudian, ia meniru peran tersebut tetapi ia belum mengetahui maksud dan tujuannya. Mengapa ia meniru peran tersebut. Sebagai contoh seorang anak laki-laki meniru peran yang dijalankan oleh Bapaknya yaitu menyetir mobil.
·
Siap bertindak (game)
Tahap ini menjelaskan bahwa seorang anak yang meniru peran orang tuanya sudah mulai mengerti sedikit demi sedikit maksud, makna, serta tujuannya. Serta, ia sudah mulai mengurangi sedikit demi sedikit peran tersebut. Kemudian, seorang anak tersebut mulai bertindak pelan-pelan untuk siap menggantikan peran yang dijalankan oleh orang tuanya, dan dimainkan dengan penuh kesadaran.
Tahap ini menjelaskan bahwa seorang anak yang meniru peran orang tuanya sudah mulai mengerti sedikit demi sedikit maksud, makna, serta tujuannya. Serta, ia sudah mulai mengurangi sedikit demi sedikit peran tersebut. Kemudian, seorang anak tersebut mulai bertindak pelan-pelan untuk siap menggantikan peran yang dijalankan oleh orang tuanya, dan dimainkan dengan penuh kesadaran.
·
Kedewasaan (Generalized stage)
Dalam tahap ini, seorang anak mulai tumbuh dewasa dan telah mampu meniru peran-peran tersebut dan menjalankannya dengan penuh kesadaran yang luas. Serta, mampu mengenal lebih luas kedudukan masyarakat setempat.
Dalam tahap ini, seorang anak mulai tumbuh dewasa dan telah mampu meniru peran-peran tersebut dan menjalankannya dengan penuh kesadaran yang luas. Serta, mampu mengenal lebih luas kedudukan masyarakat setempat.
Faktor
sosialisasi
1. Faktor
Intrinsik
Pada hakikatnya faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam individu
yang melakukan proses sosialisasi. Wujud nyata faktor ini antara lain dapat
berupa pembawaan-pembawaaan seperti bakat, ciri-ciri fisik ataupun warisan
biologis termasuk kemampuan-kemampuan yang ada ada diri seseorang.
Faktor-faktor ini akan mempengaruhi pada jalannya proses sosialisasi dalam
kehidupan bermasyarakat seorang individu. Hasilnya akan sangat berpengaruh
terutama dalam perolehan ketrampilan, pengetahuan, nilai-nilai dalam proses
sosialisasi itu sendiri. Faktor intrinsik justru merupakan faktor yang dominan
dalam mempengaruhi proses sosialisasi. Di satu sisi merupakan faktor pendorong
untuk me judkan keinginan. di sisi lain merupakan faktor pengendali dan
berfungsi sebagai pengukur mengenai baik-buruknya suatu aktivitas dalam proses
interaksi.
2. Faktor eksterinsik
Selain faktor-faktor bawaan yang ada di dalam diri masing-masing individu, secara kodrati, manusia juga sudah mendà pat pengaruh dan lingkungan di sekitamya. Faktor-faktor yang berada diluar diri individu inilah yang disebut faktor eksterinsik. Wujud nyata dan faktor ini adalah norma-norma, sistem sosial. dan sistem budaya, sistem mata pencaharian yang ada dalam masyarakat.
Selain faktor-faktor bawaan yang ada di dalam diri masing-masing individu, secara kodrati, manusia juga sudah mendà pat pengaruh dan lingkungan di sekitamya. Faktor-faktor yang berada diluar diri individu inilah yang disebut faktor eksterinsik. Wujud nyata dan faktor ini adalah norma-norma, sistem sosial. dan sistem budaya, sistem mata pencaharian yang ada dalam masyarakat.
Untuk melakukan proses sosialisasi seorang individu akan dibatasi dengan nilai
dan norma yang ada dalam masyarakat. Nilai-nilai mi akan menjadi pedoman bagi
seseorang untuk melakukan berbagai aktivitas. Perpaduan antara faktor intrinsik
dan eksterinsik akan berakumulasi pada diri seseorang dalam melaksanakan proses
sosialisasi.
Faktor
pembentuk kepribadian
1. Faktor Keturunan (heredity) Warisan Biologis
Semua
manusia yang normal dan sehat memiliki persamaan biologis tertentu, seperti
memiliki dua tangan, pancaindra, kelenjar seksual, dan otak yang rumit.
Persamaan biologis ini membantu menjelaskan beberapa persamaan dalam
kepribadian dan perilaku semua orang. Setiap orang memiliki warisan
biologis yang berbeda satu dengan lainnya.
Faktor keturunan berperan terhadap keramahtamahan,
perilaku kompulsif(dipaksakan), dan kemudahan dalam pergaulan sosial. Akan
tetapi faktor keturunan tidak berpengaruh terhadap terbentuknya kepemimpinan,
pengendalian diri, dorongan hati, sikap, dan nilai.
2. Faktor Lingkungan Alam (natural environmental)
Keadaan
lingkungan alam seperti perbedaan iklim, topografi, dan sumber daya alam
mengharuskan manusia mampu menyesuaikan diri. Dengan adanya proses
penyesuaian diri itulah maka akan muncul bentuk kebudayaan yang
dipengaruhi oleh alam. Misalnya olahraga ski muncul pada masyarakat yang
lingkungan alamnya mengalami musim salju. Kebudayaan masyarakat yang hidup di
pantai berbeda dengan masyarakat yang hidup di pegunungan atau hutan belantara.
Melalui proses penyesuaian diri manusia membentuk sikap dan tindakan yang
berbeda dengan manusia lainya.
3. Faktor Sosial (social environment)
Di
samping keadaan alam memengaruhi kebudayaan, kebudayaan pun bisa memengaruhi
alam. Perbedaan kebudayaan dalam setiap masyarakat dapat memengaruhi
kepribadian seseorang. Misalnya kebudayaan petani, kebudayaan kota, dan
kebudayaan industri tertentu memperlihatkan corak kepribadian yang
berbeda-beda. Di masyarakat kadang-kadang terdapat karakteristik kepribadian
umum, namun tidak berarti semua anggota termasuk di dalamnya. Kepribadian umum
merupakan serangkaian ciri kepribadian yang dimiliki oleh sebagian besar
anggota kelompok sosial yang bersangkutan.
4. Faktor Kelompok Manusia (group)
Kepribadian
seseorang juga dipengaruhi oleh adanya kelompok manusia lainnya. Hal itu
dikarenakan kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak mungkin dapat
hidup sendiri. Kelompok manusia pertama yang memengaruhi kepribadian anak
adalah keluarga, tetangga, teman sepermainan, dan sekolah.
Komentar
Posting Komentar